Call Us 0354 3101544 | Email alazharpare13@gmail.com

Mendengar atau membaca Kampung Inggris, apa yang ada di benak kita? Kebanyakan kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah kampung Inggris..
Kampung Inggris sebenarnya hanyalah julukan untuk kampung yang berada di Kecamatan Pare, Kediri, Jawa timur, tepatnya di desa pelem dan Tulungrejo. Dijuluki kampung Inggris, bukan karena di Kampung ini, banyak orang-prang bulenya..Bukan juga karena di situ masyarakat memakai bahasa Inggris dalam kesehariannya. Sebabnya, karena disini banyak sekali berdiri lembaga-lembaga kursusan Bahasa asing. Mulanya cuma bahasa Inggris. Namun kini, tak sedikit lembaga-lembaga kursus bahasa lain. Seperti bahasa Arab, Korea, Prancis, Spanyol, dan lain-lain. Lalu, bagaimanakah sejarah kampung Inggris ini bermula?

Sejarah Mula Kampung Inggris Pare

Adalah Kalend oslen, di tahun 1976, terpaksa berhenti tak melanjutkan sekolahnya di Pesantern Gontor disebabkan minimnya biaya. Padahal saat itu ia telah kelas 5. Bahkan, karena memang tak ada uang yang berkecukupan, ia juga tak bisa pulang ke kampung halamanya di Kalimantan timur.
Hingga di suatu hari, oleh saran seorang temannya, kalend remaja akhirnya nyantri di Pesantrem darul falah di Pare Kediri. Saat itu kyainya bernama KH.Ahmad Yazid. Kabarnya beliau menguasai banyak bahasa asing, dan sering dijadikan bapak Soeharto (Presiden saat itu) sebagai penerjemah.

Berbekal kegigihan, dan khidmahnya pada kyai, kalend remaja dapat dengan mudah menyerap ilmu dari KH. Ahmad Yazid.

Dalam suatu kesempatan, ada 2 mahasiswa dari IAIN sunan Ampel Surabaya yang berkunjung ke pesantren darul falah. Niatan keduanya, hendak berguru bahasa inggris kepada KH. Yazid. Hanyasaja, ketika itu beliau sedang tidak ada di sana. Entah sebab apa, bu Nyai Yazid mengarahkan kedua mahasiswa tadi untuk belajar kepada Kalend yang belum lama menjadi santri.

“Waktu itu saya sedang menyapu masjid dan dua mahasiwa itu menghampiri saya,” kenang Kalend

Singkat cerita, keduanya pun belajar bahasa Inggris secara intensif selama 5 hari kepada Kalend.. Saat itu, yang dijadikan tempat belajar adalah aula masjid.

Kira-kira satu bulan setelah itu, keduanya berkunjung kembali, dan mengabarkan bahwa keduanya telah lulus..

Siapa yang sangka, dari kisah sesederhana itu, sejarah besar bermula.

Keberhasilan dua mahasiswa itu tersebar dan banyak diantara mahasiswa IAIN Surabaya yang akhirnya mengikuti jejak seniornya belajar kepada Kalend. Promosi dari mulut ke mulut itulah yang akhirnya menjadi awal terbentuknya kelas pertama.

Sejak saat itu, tanggal 15 juni berbekal niatan mulia menjadi yang bermanfaat bagi sesama, Kalend mendirikan lembaga kursusan bahasa Inggris dengan nama BEC (Basic English Course) dengan jumlah 6 siswa pada kelas perdana.

Selama kurang lebih sepuluh tahun berdiri, kampung ini semakin ramai di datangi pelajar yang datang dari berbagai dari lintas daerah. Selama itu pula Kalend berjuang sendirian sebelum akhirnya, pada tahun 1990-an, banyak alumninya yang didorong untuk juga membuat lembaga kursus untuk menampung pelajar yang tidak mendapat kuota akibat membeludaknya pelajar di BEC

“Saya memiliki prinsip, kalau kita berkarya, selain bisa dinikmati sendiri, karya itu juga tidak merugikan orang lain,” tutur kakek rendah hati ini.

Lambat laun lembaga kursus yang ada kampung yang masih terasa khas pedesaanya ini semakin bertambah jumlahnya. Kini, di Kampung Inggris ini, selain bahasa inggris, ada juga banyak lembaga kursusan bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Arab, Mandarin, Spanyol, dan bahasa-bahasa lainnya..

Hingga kini, ada tak kurang dari 150 lembaga kursusan, dan hampir setiap bulannya, kampung ini seakan tak pernah sepi dari pelajar pendatang..

Penasaran dengan Kampung Inggris? yukz, segera gabung bersama kami disini!